"Tar, sejak kapan kamu kenal sama Nattan?", tanyaku sambil berbisik. "Udah satu semester kali Vit, dia kan ikut basket dan kamu tau Vit? Permainannya keren banget", saking menggebunya Tara ketika berbicara tentang basket, anak yang dibicarakan sedikit merasa. "Udah Tar, orang yang gak tau tentang basket gak bakalan tertarik kalau kamu bicara kayak gitu".
Sebelumnya Vitt menanggapi apa yang dibicarakan sama Nattan, guru sudah masuk kelas. "Selamat pagi anak-anak, untuk kelas baru kali ini saya adalah wali kelas kalian. Bagi yang kelas 2 kemarin tidak diajar saya, nama saya Bu Endang dan saya akan menjadi wali kelas kalian untuk satu tahun kedepan".
"Yes!". "Kenapa Ri?". "Seneng aja wali kelasnya Bu Endang dan kamu beruntung bisa deket sama ibu kamu" , goda Ria. Sudah 3 tahun Vitta diajar oleh Bu Endang dan Bu Endang sendiri sudah menganggap Vitta sebagai anaknya.
"Oke sebagai permulaan saya akan memilih ketua kelas. Saya ingin Ferdi Ramadhan sebagai ketua kelas dan sebagai wakilnya Vitta Rezkia", dengan puasnya Bu Endang memilih Vitta dan Ferdi sebagai perangkat kelas.
"Tuh Vit, harusnya kamu bersyukur wali kelas kita Bu Endang, kamu bisa deket sama Ferdi", goda Tara yang membuatku sedikti malu. "Ya Ampun Vit, kamu udah pacaran sama Ferdi?" tanya Ria setelah mendengar Tara berbicara. "Belumlah, si Ferdinya masih malu, Vittanya masih sedikit gimana gitu". "Ah udah Tar hadap depan sana", pukulku ke bahu Tara. "Eh dianya malu, hahaha", Goda Tara sambil menghadap depan.
* * *
Bel panjang pun berdering. Setelah kurang lebih 8 jam belajar di sekolah akhirnya kami semua bisa keluar dan menghirup udara bebas.
"Tar kamu kemana habis ini?". "Gak tau Vit, masih belum ada les kan?". "Jalan yuk Vit, Tar? Cuma cari tempat makan aja". "Ehhmm boleh juga Ri, ayo deh!". Kataku bersemangat sambil menarik tangan kedua temanku. "Eh bentar, boleh ajak Nattan gak?". Aku hanya bisa tatapan sama Ria. Dan akhirnya "Gimana Vit? Ehhmm boleh deh Tar".
Setelah 15 menit perjalanan dan sekarang kita semua ada di mobilnya Nattan akhirnya sampai juga di salah satu fast food paling ramai di kota ini.
"Mau makan apa? apa cuma mau ngemil?" tanya Ria dengan semangat. "Aku makan deh Ri, yang paket besar aja, minta dadanya yang gede ya" aku pesen ke Ria sambil ngasih uang. "Aku burger aja deh Ri, Nat mau apa?". "Aku sama kayak kamu aja Tar". Setelah Ria antri kami pun mencari tempat duduk dan mendapatkan tempat duduk paling enak, dekat cendela.
"Eh bentar ya mau ngasih uang ke Ria sama mau nambah lagi". Kalau Tara ke Ria aku bakalan sama Nattan dong. "Udah ntar aja ngasihin uangnya" kataku sambil menahan bingung. "Aku mau pesen juga, mau nitip lagi Tar, Nat mau minum apa?". "Aku 7Up aja Tar". "Oke, kalian jaga tasnya ya".
Setelah Tara meninggalkan mereka berdua, hanya ada suara dari Balckberry Nattan dan suara lirih Vitta bernyanyi. Suasana saat itu terasa sangat aneh. Akhirnya salah satu dari mereka mulai berbicara.
"Nat, udah lama ya kenal Tara?". "Satu semester, kenapa?" jawab Nattan dengan muka acuh tak acuh. Kenapa juga aku bicara sama anak ini. "SIAL!". "Kamu tadi bilang apa Vit?". "Eh oh nggak kok Nat".
"Hallo anak-ana apa kalian sudah lapar?" kata Ria yang berlaku sebagai mama. "Lumayan, Oke mari kita makan!" aku pun langsung mengambil makanan pesananku. "Hei tunggu, cuci tangan dulu" dengan gaya seperti ibu-ibu, Nattan memukul tanganku lumayan keras. "Ya ampunn biasa aja kali kalau gak suka udah pake mukul!". "Kalian kenapa sih?" tanya Ria yang meilihat kami heran. "Udah-udah, ayo Vit aku temenin cuci tangan" kata Tara sambil menurunkan suasan yang sedikit aneh lagi.
Kenapa sih Nattan, asal mukul aja, bilangan biasa kan juga bisa" cecarku kepada Tara. "Dia gitu Vit, orangnya gila bersih, kamu liat aja mobilnya cling gitu" kata Tara dengan ada nada sedikti aneh. "Kamu juga sih make acara ngajakin dia segala, masih mending ngajak ehhmm Ferdi". "Ya ampun kalau itu sih kamu aja yang jalan berdua sama dia" kata Tara dengan sedikit menyenggol. "Eh aku mau cerita tapi nanti aja kalau udah pulang". "Ah paling Ferdi lagi" tebak Tara asal. "Aku juga mau cerita deh Vit, tapi ntar aja". "Kamu udah punya Tar? Hayo siapa?". Gak kerasa percakapan yang mulanya marah-marah jadi percakapan gak jelas. Kami pun makan dan tenggelam dalam pikiran masing-masing
to be continue






