Beberapa hari yang lalu ketika aku mengantar Ibu untuk perpanjangan masa STNK di sebuah mal, aku duduk disebelah seorang ibu muda. Dia membawa 2 orang anak. Yang satu masih belum bisa berjalan yang satu lagi mungkin berumur 2,5 tahun.
Saat si ibu muda itu menunggu gilirannya perpanjangan STNK, karena memang waktu itu sangat ramai, si anak yang paling besar itu melihat jam tangan yang kiosnya ada di depan Samsat. Tiba-tiba anak kecil itu datang ke ibunya dan merengek meminta dibelikan jam tangan. Aku yang dari tadi hanya diam mulai menggerutu karena tangisan anak kecil.
Aku bilang ke Ibu, "Aduh bu, mamanya kok gak ngediemen anaknya e? Nangis terus itu lho berisik". Terus Ibu bilang, "biarin nanti lak diam sendiri a". Tiba-tiba si Ibu dari anak kecil itu mendekap anaknya dan berkata "Sini kamu, sekarang kamu istifgfar, di kamu itu banyak lho setannya, makanya nangis terus dari tadi, ayo istigfar". Si ibu menyuruh anaknya untuk beristigfar dan anaknya juga otomatis melakukan apa yang disuruh oleh ibunya.
Beberapa setelah itu si anak mulai diam dan tidak merengek meminta jam lagi. Lalu si anak tiba-tiba tanya ke ibunya "Lho ma, mana setannya? Katanya tadi ada setan". Si ibu menjawab, "Udah pergi jauh setannya, udah gak ada, udah keliling lagi".
Karena itu tiba giliran aku dan ibu harus perpanjangan jadi gak bisa ndengerin terus kata-kata anaknya.
Ketika di mobil ibu bilang, "kamu dulu ya kayak gitu, lek minta itu harus sekarang ada". Aku dengan nada membela mengatakan "Tapi kan gak sampe nangis kayak gitu bu". Ibu malah bilang gini "Keras kepalamu sama kayak anak tadi, cuma mamanya tadi pintar, soalnya bisa di 'rem' sama istigfar dan aku dulu gak gituin kamu". Setelah ibu berkata seperti itu aku jadi merasa bersalah.
Tapi aku tadi sudah ngerasa seperti bercermin. Mungkin aku seperti itu. Ketika meminta sesuatu harus ada saat itu juga. Mungkin kalau aku yang jadi ibunya aku sudah memarahi anaknya tapi beda dengan ibu yang tadi. Dia memberikan pengertian kepada anaknya. Salut tapi juga malu sama Ibu.