RSS

ABD ohhh ABD


Satu-satunya alasan semester ini terlalu lelah untuk dilewati adalah (sepertinya) salah mengambil mata kuliah. Iya salah. Ada 1 mata kuliah yang benar-benar zonk. Apa itu? ABD. Bagi anak informatika UB, ABD itu zonk. Apalagi yang punya spesifikasi laptop sedang. Udah deh bukan zonk lagi tapi maatteeekkk. 

Kenapa bisa kayak gitu? Selain pelajarannya ngoprek isinya database DB2 IBM sama Oracle kebutuhan buat hardwerenya itu lho yang hosh hosh banget. Kuliah satu ini butuh 2-3 program dalam 1 kali running. Parahnya 1 program itu butuh ram setidaknya 2 GB untuk lebih optimal. Bayangin kalao 2-3 program running bareng. Udah deh ni laptop kukut. Udah gak ada nafasnya. 

Selain itu dosennya itu lho. Setiap minggu ngasih tugas yang bejibun. Aslinya sih gak banyak tapi gak mudengnya itu lho yang buat keinginan ngedrop mata kuliah ini.

Udah ah ini efek kuliah spesifikasi laptop sama otak sedang. Jadi kayak gini. 

...


Mungkin ini terdengar sedikit gila. Aku telah berlari dari seorang perampok dan bersembunyi dengan seorang pembunuh. Iya itu perumpamaan yang cukup bagus.

Kenapa aku lari dari seorang perampok karena aku hanya ingin menjaga dan melindungi apa yang telah aku miliki. Tapi kenapa berlarinya harus ke arah pembunuh karena seorang pembunuh bisa melindungiku dengan membunuh orang lain atau bisa juga pembunuh membunuh diriku.

Kenapa harus memilih bersembunyi dibalik pembunuh karena aku bisa menghancurkan diriku sendiri tanpa ada satupun barangku yang diambil dan hanya cukup aku sendiri saja korbannya. Harusnya bisa sajakan aku membiarkan barangku dicuri tanpa membunuh diriku sendiri. Iya bisa saja, Tapi aku akan merasa sangat bersalah bila pencuri tersebut merebut barang berharga tersebut.

Jadi aku cukup bersembunyi dengan seorang pembunuh tanpa melukai siapapun, Cukup aku saja yang terbunuh.

20 years old


Kamis, 14 Agustus 2014
Rumah.

Selamat bertambah tua untuk diriku sendiri. Gak kerasa banget udah umur 20 Tahun. Tua banget yak. Udah jadi young adult ini.

Terima Kasih untuk ayah sama ibu udah besarin sampai umur segini. Pasti perjuangan banget. Setiap hari harus berhadapan sama anak yang kerasnya sama kayak batu ini. Terima kasih buat adik paling kece sedunia. Walaupun terkadang sifatmu yang sok dewasa lebih dewasa dari aku buat jengkel tetep syayang anget deh. *Sungkem ke ayah ibu*

Buat temen 5 tahun tak terpisahkan Cabe. Makasi udah jadi teman seneng maupun susah, tapi banyakan senengnya. Teman hedon paling joss juga. Teman uang juga. Teman ngelayap juga. Syayang kalian Cabe. *Kecup basah atu atu*

Buat teman kece dari kelas 2 SMA, Cece, Anggi, Peth, Catur. Teman bergosip paling hot. Teman bully juga. Muah pokoknya. 

Buat Menjangan Mencocit. Teman seperjuangan kuliah apalagi anak mencocitnya. Teman tugas teman galau teman apapun deh,

Makasi untuk semua doanya, *Cium atu atu*

Btw pernah lho kepikiran gak mau jadi besar. Pengen banget jadi kayak peterpan. Dia tetap kecil umur 9 tahun selama berpuluh-puluh tahun. Tapi setelah dipikir-pikir sekarang kalau gak tumbuh berarti meninggal dong. Kenapa aku milih umur 9 tahun kalau gak mau tumbuh? Menurutku umur 9 tahun itu anak masih polos tapi udah tau apapun. Jadi masih bisa bersenang-seneng gak takut dimarahin atau merasa malu. Enak kan. 

Apapun itu, terima kasih untuk semuanya. Terutama ayah sama ibu. 

Tuhan atau dia


Seseorang itu datang di waktu yang tepat. Dia menjadi teman sekaligus kakak yang memberi petuah kepada adiknnya. Tapi sayang orang itu bukan orang yang tepat. Benar, orang itu hanya datang diwaktu yang tepat, tapi orang itu bukan orang yang tepat.

Tuhan ingin mengujinya. Tuhan memberikan orang itu ketika sedang ada masalah. Tapi masalahnya orang itu berbeda. Iya berbeda. Perbedaan keyakinan yang membuat jarak. Benar Tuhan memberinya orang yang mempunyai keyakinan yang berbeda.

Tuhan ingin membuktikan seberapa kuat imannya ketika dihadapkan pada pilihan seperti ini. Dia sendiri sudah sadar. Bahkan otaknya mengatakan bahwa kalian berbeda. Tapi hatinya berkebalikan.

Mungkin ini pilihan yang berat. Dia hanya ingin kedua hal ini bersatu. Dia menginginkan Tuhannya dan juga orang itu. Tapi masalah ini hanya mempunyai 1 jawaban. Tuhannya atau orang itu.

Akhirnya dia lebih memilih Tuhannya. Dia paham bahwa Tuhan ingin mengujinya dan dia paham jika dia berhasil melewati ini Tuhan akan memberikan yang lebih baik dari oranv itu.


Udah ah kapok. Gak mau lagi. Udah nyesel. Udah ngerusak juga. Jadi gak enak kan. Pusing kalau gini. Gak bisa bebas. Udah ada jarak. Udah gak kayak dulu. Bener-bener ngerusak. Gak suka kalau kayak gini.

Inginnya sih


Malam. Aku masih terjaga walau sekarang jam menunjukkan pukul 12.15 dini hari. Kuat kan. Iya dong kuat tadi siang udah tidur dengan enaknya.

Mau bahas apa malam ini? Mau bahas apapun yang ada dipikiranku dong. Jadi apa yang ada dipikiranku?

Inginnya sih sekali-kali jadi yang egois. Bukan jadi pihak yang mengalah. Inginnya sih jadi yang selalu punya apapun yang diinginkan. Bukan memberikan apapun yang orang lain mau. Inginnya. Tapi gak bisa. Dan untuk hal ini aku juga harus mengalah. Ini udah kejadian yang kedua.

Kalau ini bukan mengalah sih lebih tepatnya. Gak tau apa yang mau dilakukan. Udah kesalip sama yang lainnya. Dan aku sendiri cuma bisa diam sambil menyemangati. Kan akunya juga ingin kayak gitu.
Inginnya sih berusaha bisa dapat. Tapi gak tau berusaha model apa. Udah coba beberapa kali tapi gagal. Yah jadi ya gitu. Keduluan dan berakhir kayak itu. Kalau orang jawa bilang gak teteh. Bukannya gak teteh, tapi gak tau apa yang harus dilakukan. Mau tanya juga agak kayal.

inginnya sih jadi yang diusahakan bukan jadi yang berusaha. Tapi untuk ini sedikit gak mungkin. Inginnya sih langsung dapat. Tapi gak mungkin juga. Masa iya kalau mau dapat sesuatu, gak berusaha bisa langsung dapat. Kan harusnya berusaha dulu baru dapat. Tapi ini terlalu susah buat dimiliki. Pertama karena gak tau gimana model usahanya yang kedua juga bingung caranya.

Sudahlah. Kalau bisa juga datang sendiri.

Ayah = Inspirasi


Kau tau apa yang membuatku sedikit lebih lama untuk tetap belajar? Orang tua. Apalagi ayah. Iya ayah. Walaupun, untuk teman-teman yang tau beliau terlihat menyeramkan, tetapi aku jamin ketika kalian mengenal beliau lebih dekat, kalian akan merasa nyaman. 

Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Karena setiap kali aku merasa terpuruk atau malas untuk belajar, beliau selalu berkata untuk tetap semangat. Dan disaat itu aku teringat cerita beliau bisa menjadi sebesar sekarang. Bisa menghdupi keluarganya dan bisa berbagi dengan sesama. 

Beliau sering bercerita betapa susahnya belajar dan mencari nafkah pada waktu itu. Karena keluarga beliau berasal dari desa, maka tidak ada dorongan untuk menimba ilmu sampai jenjang yang lebih tinggi. Kebanyakan dari keluarga ayah adalah lulusan SD dan paling tinggi adalah SMA waktu itu. Dan entah apa yang ada di pikiran beliau hingga berani mengambil keputusan untuk keluar dari lingkaran tersebut. 

Lulus dari SMP, beliau pindah ke kota untuk melanjutkan ke jenjang SPG (saat itu adalah sekolah untuk guru). Walau saat itu keputusan beliau ditentang keras oleh kakek. Tetapi beliau tetap berjuang untuk bisa sekolah hingga jenjang S1. 

Ketika beliau sekolah, beliau sangat merasa kekurangan. Terutama untuk masalah perut. Untuk jaman itu, beliau masih belum mempunyai apa-apa hingga suatu saat beliau pernah jatuh pingsan karena kurang makan dan terlalu banyak belajar.

Selain itu, ketika beliau akan pulang ke rumahnya. Ayah harus berjalan jauh untuk bisa mendapat tumpangan atau naik angkot yang ada pada waktu itu. Menurut beliau, jamanku sekarang jaauuhh lebih beruntung dari pada beliau. 

Karena cerita beliau itu aku jadi bersemangat. Aku selalu berpikir, dari mana beliau mendapat pikiran tersebut. Bukankah beliau bukan dari keluarga yang peduli dengan pendidikan, tapi kenapa beliau bisa berpikir seperti itu. Aku aja hanya terdorong dari orang tua. Bukan dari diri sendiri. 

Sering juga merasa malu. Beliau sudah memberi fasilitas terbaik ehhh akunya malah menggunakan dengan hal yang salah. Ayah aja yang dari keluarga tidak mampu dulunya bisa sekolah sampai tinggi, berjuang untuk belajar dan bisa sukses seperti sekarang. Harusnya aku lebih sukses dari ayah. Karena udah diberi fasilitas lengkap. 

Merasa beruntung punya ayah seperti beliau. Jadi inspirasi dan motivator pribadi. Gak semua orang tua mau kasih inspirasi ke anaknya. Dan ayaku adalah satu dari beberapa orang tua yang memberi inspirasi. Beliau memulainya dari 0 dan berhasil sampai sekarang. 

Kalau ada orangnya, gak mungkin deh bisa ngomong panjang lebar kayak gini. Nangis yang iya. 

Terima kasih ayah untuk apapun yang ayah kasih ke aku dan adik. Terima kasih untuk Tuhan telah memberiku ayah yang baik. Dan terima kasih untuk seluruh inspirasi yang ayah berikan.
Copyright 2009 What's up with Bindi's brain? . All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates