Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Karena setiap kali aku merasa terpuruk atau malas untuk belajar, beliau selalu berkata untuk tetap semangat. Dan disaat itu aku teringat cerita beliau bisa menjadi sebesar sekarang. Bisa menghdupi keluarganya dan bisa berbagi dengan sesama.
Beliau sering bercerita betapa susahnya belajar dan mencari nafkah pada waktu itu. Karena keluarga beliau berasal dari desa, maka tidak ada dorongan untuk menimba ilmu sampai jenjang yang lebih tinggi. Kebanyakan dari keluarga ayah adalah lulusan SD dan paling tinggi adalah SMA waktu itu. Dan entah apa yang ada di pikiran beliau hingga berani mengambil keputusan untuk keluar dari lingkaran tersebut.
Lulus dari SMP, beliau pindah ke kota untuk melanjutkan ke jenjang SPG (saat itu adalah sekolah untuk guru). Walau saat itu keputusan beliau ditentang keras oleh kakek. Tetapi beliau tetap berjuang untuk bisa sekolah hingga jenjang S1.
Ketika beliau sekolah, beliau sangat merasa kekurangan. Terutama untuk masalah perut. Untuk jaman itu, beliau masih belum mempunyai apa-apa hingga suatu saat beliau pernah jatuh pingsan karena kurang makan dan terlalu banyak belajar.
Selain itu, ketika beliau akan pulang ke rumahnya. Ayah harus berjalan jauh untuk bisa mendapat tumpangan atau naik angkot yang ada pada waktu itu. Menurut beliau, jamanku sekarang jaauuhh lebih beruntung dari pada beliau.
Karena cerita beliau itu aku jadi bersemangat. Aku selalu berpikir, dari mana beliau mendapat pikiran tersebut. Bukankah beliau bukan dari keluarga yang peduli dengan pendidikan, tapi kenapa beliau bisa berpikir seperti itu. Aku aja hanya terdorong dari orang tua. Bukan dari diri sendiri.
Sering juga merasa malu. Beliau sudah memberi fasilitas terbaik ehhh akunya malah menggunakan dengan hal yang salah. Ayah aja yang dari keluarga tidak mampu dulunya bisa sekolah sampai tinggi, berjuang untuk belajar dan bisa sukses seperti sekarang. Harusnya aku lebih sukses dari ayah. Karena udah diberi fasilitas lengkap.
Merasa beruntung punya ayah seperti beliau. Jadi inspirasi dan motivator pribadi. Gak semua orang tua mau kasih inspirasi ke anaknya. Dan ayaku adalah satu dari beberapa orang tua yang memberi inspirasi. Beliau memulainya dari 0 dan berhasil sampai sekarang.
Kalau ada orangnya, gak mungkin deh bisa ngomong panjang lebar kayak gini. Nangis yang iya.
Terima kasih ayah untuk apapun yang ayah kasih ke aku dan adik. Terima kasih untuk Tuhan telah memberiku ayah yang baik. Dan terima kasih untuk seluruh inspirasi yang ayah berikan.







0 komentar:
Posting Komentar