RSS

Gak tau sejak kapan dan gak tau berakhir kapan

Teman?


Hari ini aku lihat drama korea judulnya 49Days. Itu film bagus bener. Aku bisa mengambil beberapa makna dari film itu. Walaupun ceritanya sedikir ngaco, mellownya gak ketolongan dan berakhir sedih, tapi tetep aja bagus. 

Jadi itu ceritanya ada orang yang seharusnya belum waktunya meninggal dia meninggal dan dia melakukan perjalanan 49 hari untuk bisa mendapatkan air mata dari orang terdekat kecuali orang tua dan kerabat agar dia bisa hidup lagi. 

Selama di perjalanan 49 harinya itu dia menggunakan tubuh seorang perempuan yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Tapi selama perjalanan itu juga dia juga dibantu oleh seseorang yang merupakan pacar kakaknya. 

Dalam mencari air mata itu dia menemukan keburukan dari sahabat yang selalu bersama dia dan juga tunangannya. Dari situlah aku bisa mengambil kesimpulan dan makna yang ada di cerita itu. 

Aku mulai berpikir apakah ketika aku nanti meninggal hanya ada ayah, ibu sama dini yang bersedih atau mereka sama sekali tidak sedih ketika aku meninggal. Apakah orang-orang yang selama ini aku anggap sebagai teman akan bersedih atau hanya air mata buatan saja yang mereka keluarkan atau lebih parah lagi mereka hanya akan diam diri ketika aku tidak ada. Aku juga berpikir apakah aku akan melakukan hal yang sama ketika salah satu temanku tidak ada.

Kadang aku berpikir apakah mereka berteman denganku hanya untuk memanfaatkan, kasihan atau mereka benar-benar tulus berteman. Ketika aku sendiri aku bahkan bisa berpikir lebih kejam dari pada itu. Aku ingin mereka bisa menjadi teman yang benar-benar teman bukan hanya sekedar ketika kita membutuhkan kita akan datang pada mereka atau sebaliknya. 

Ibuku sering berkata "kamu itu jadi anak jangan nggantung sama orang terus, mereka gak akan selamanya sama kamu. Teman sih teman tapi mereka lebih tau batasnya ketimbang kamu!". Untuk kali ini aku benar-benar sangat setuju dengan ibu. 

Mereka sangat tau batasan berteman. Aku sempat berpikir buruk tentang berteman. Tentang ketika mereka sudah tidak membutuhkan kita, ketika kita sudah tidak bisa apa-apa lagi dan ketika semua kekayaan kita membuat mereka menjadi musuh dalam selimut. 

Bukannya hal itu tidak mungkin. Itu mungkin saja terjadi. Contohnya ketika kalian sakit keras dan temanmu tahu kalau kalian mempunyai barang mewah dan uang banyak. Mereka akan mencoba untuk lebih baik pada kalian dan ketika kalian meninggal mereka bisa mengambil sebagian dari harta kalian. 

Aku tau kalau itu terlalu kejam dan aku tau itu sangat menyinggung. Tapi aku selalu berpikir dua arah. Teruatama aku berpikir ketika seseorang pertama kali kenal kamu dan dia sudah sangat baik ke kamu. Itu sangat mencurigakan. Semua yang dilakukannya pasti ada maksud. Dan sekali lagi aku akan berpikir ketika aku baru pertama kali kenal dengan seseorang. 

Aku berharap semua teman yang aku punya akan tetap menjadi temanku. My real friend. Bukan ada saat aku senang saja tapi saat kita semua jatuh, merasakan pahit dan juga ketika kita merasakan manisnya hidup. 

Sometimes, I feel that i the dumbest person in the world


I felt angry, i felt sad, i felt desperate, i felt fool, and i felt happy in the same time. I hate being like this. It feels like i can't control my emotion. I hate have this feeling. I felt that i crazy people. Talk about something that can't happen. Something that just in my dream. 

Kesalahan


Kayaknya kekuranganmu emang gak bisa bersyukur. Bukannya bersyukur dikasih kayak gitu eh malah nyacat. Sadar dong Bin. Semua orang itu punya kekurangan dan kita harus nerima. Bukan kayak tadi.

I felt ...


Bukan ini yang ingin aku rasakan. Bukannya yang kayak gini. Tapi yang biasa. Yang normal. Gak ada acara kalo ketemu takut, kalau apa takut, takut kalau ketemu di tempat umum. Dan itu lebih parah. Aku gak suka kayak gini. Kalau gini seperti bukan menjadi "NINDI" yang sesungguhnya. Bukannya aku menjadi bebas tapi aku malah menjadi tertekan gak karu-karuan. I feet like i see the same person in everywhere and it makes me crazy. Tetap tenang aja deh. Apapun tenang. Oke :) 

Puber?


Hallo, Kali ini kotaku benar-benar dingin. Hampir setiap hari hujan. Meskipun berhenti hujan untuk beberapa hari mendung masih bergelayutan di atas kota ini. 

Aku masih bingung dengan apa yang aku alami. Aku sedikit merasa bahwa setiap orang yang aku kenal, aku temui dan yang baru mengenal menarik diri dari aku. Atau aku yang menarik diri dari kehidupan sosial. Padahal pada tahap ini harusnya aku mempunyai banyak teman dan memperluas pergaulan. Tapi ini. Ehhmm. Atau mungkin ini sindrom puber. Gak taulah. Mungkin aku saja yang menarik diri. 

Story 6


"Tar, sejak kapan kamu kenal sama Nattan?", tanyaku sambil berbisik. "Udah satu semester kali Vit, dia kan ikut basket dan kamu tau Vit? Permainannya keren banget", saking menggebunya Tara ketika berbicara tentang basket, anak yang dibicarakan sedikit merasa. "Udah Tar, orang yang gak tau tentang basket gak bakalan tertarik kalau kamu bicara kayak gitu". 

Sebelumnya Vitt menanggapi apa yang dibicarakan sama Nattan, guru sudah masuk kelas. "Selamat pagi anak-anak, untuk kelas baru kali ini saya adalah wali kelas kalian. Bagi yang kelas 2 kemarin tidak diajar saya, nama saya Bu Endang dan saya akan menjadi wali kelas kalian untuk satu tahun kedepan". 

"Yes!". "Kenapa Ri?". "Seneng aja wali kelasnya Bu Endang dan kamu beruntung bisa deket sama ibu kamu" , goda Ria. Sudah 3 tahun Vitta diajar oleh Bu Endang dan Bu Endang sendiri sudah menganggap Vitta sebagai anaknya. 

"Oke sebagai permulaan saya akan memilih ketua kelas. Saya ingin Ferdi Ramadhan sebagai ketua kelas dan sebagai wakilnya Vitta Rezkia", dengan puasnya Bu Endang memilih Vitta dan Ferdi sebagai perangkat kelas. 

"Tuh Vit, harusnya kamu bersyukur wali kelas kita Bu Endang, kamu bisa deket sama Ferdi", goda Tara yang membuatku sedikti malu. "Ya Ampun Vit, kamu udah pacaran sama Ferdi?" tanya Ria setelah mendengar Tara berbicara. "Belumlah, si Ferdinya masih malu, Vittanya masih sedikit gimana gitu". "Ah udah Tar hadap depan sana", pukulku ke bahu Tara. "Eh dianya malu, hahaha", Goda Tara sambil menghadap depan. 

*     *     *
Bel panjang pun berdering. Setelah kurang lebih 8 jam belajar di sekolah akhirnya kami semua bisa keluar dan menghirup udara bebas. 

"Tar kamu kemana habis ini?". "Gak tau Vit, masih belum ada les kan?". "Jalan yuk Vit, Tar? Cuma cari tempat makan aja". "Ehhmm boleh juga Ri, ayo deh!". Kataku bersemangat sambil menarik tangan kedua temanku. "Eh bentar, boleh ajak Nattan gak?". Aku hanya bisa tatapan sama Ria. Dan akhirnya "Gimana Vit? Ehhmm boleh deh Tar".

Setelah 15 menit perjalanan dan sekarang kita semua ada di mobilnya Nattan akhirnya sampai juga di salah satu fast food paling ramai di kota ini. 

"Mau makan apa? apa cuma mau ngemil?" tanya Ria dengan semangat. "Aku makan deh Ri, yang paket besar aja, minta dadanya yang gede ya" aku pesen ke Ria sambil ngasih uang. "Aku burger aja deh Ri, Nat mau apa?". "Aku sama kayak kamu aja Tar". Setelah Ria antri kami pun mencari tempat duduk dan mendapatkan tempat duduk paling enak, dekat cendela. 

"Eh bentar ya mau ngasih uang ke Ria sama mau nambah lagi". Kalau Tara ke Ria aku bakalan sama Nattan dong. "Udah ntar aja ngasihin uangnya" kataku sambil menahan bingung. "Aku mau pesen juga, mau nitip lagi Tar, Nat mau minum apa?". "Aku 7Up aja Tar". "Oke, kalian jaga tasnya ya". 

Setelah Tara meninggalkan mereka berdua, hanya ada suara dari Balckberry Nattan dan suara lirih Vitta bernyanyi. Suasana saat itu terasa sangat aneh. Akhirnya salah satu dari mereka mulai berbicara. 

"Nat, udah lama ya kenal Tara?". "Satu semester, kenapa?" jawab Nattan dengan muka acuh tak acuh. Kenapa juga aku bicara sama anak ini. "SIAL!". "Kamu tadi bilang apa Vit?". "Eh oh nggak kok Nat". 

"Hallo anak-ana apa kalian sudah lapar?" kata Ria yang berlaku sebagai mama. "Lumayan, Oke mari kita makan!" aku pun langsung mengambil makanan pesananku. "Hei tunggu, cuci tangan dulu" dengan gaya seperti ibu-ibu, Nattan memukul tanganku lumayan keras. "Ya ampunn biasa aja kali kalau gak suka udah pake mukul!". "Kalian kenapa sih?" tanya Ria yang meilihat kami heran. "Udah-udah, ayo Vit aku temenin cuci tangan" kata Tara sambil menurunkan suasan yang sedikit aneh lagi. 

Kenapa sih Nattan, asal mukul aja, bilangan biasa kan juga bisa" cecarku kepada Tara. "Dia gitu Vit, orangnya gila bersih, kamu liat aja mobilnya cling gitu" kata Tara dengan ada nada sedikti aneh. "Kamu juga sih make acara ngajakin dia segala, masih mending ngajak ehhmm Ferdi". "Ya ampun kalau itu sih kamu aja yang jalan berdua sama dia" kata Tara dengan sedikit menyenggol. "Eh aku mau cerita tapi nanti aja kalau udah pulang". "Ah paling Ferdi lagi" tebak Tara asal. "Aku juga mau cerita deh Vit, tapi ntar aja". "Kamu udah punya Tar? Hayo siapa?". Gak kerasa percakapan yang mulanya marah-marah jadi percakapan gak jelas. Kami pun makan dan tenggelam dalam pikiran masing-masing

to be continue
Copyright 2009 What's up with Bindi's brain? . All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates